((supposed to be) published on Businta Dempo 2018)
Istilah “wee
small hours” adalah sebutan bagi waktu setelah tengah malam hingga subuh
menjelang dini hari. Dini hari hanya 3 jam, tapi sakral, pukul 03.30 para rahib bangun untuk berdoa. Misa
pagi biara mulai pukul 04.00, pada waktu yang sama sahur dilakukan di Bulan
Ramadan. Inilah waktu paling produktif para insomnia, ketika gelap yang
berhimpun sejak senja akan berakhir, siap menyambut terang datang menjelang.
Dini hari
telah bersama kita, sebelum
dan sesudah cahaya. Justru karena dini hari akan berhenti, dia bagian dari kesementaraan,
tak tertebak dan menjadi peringatan akan kekurangan diri kita, hadir antara
kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas.
Tiga tahun hidup dalam wee small hours di Dempo. Kami membuka mata, seperti rahib yang
bangun pagi buta, menghirup, menyesap udara pagi yang segar namun dingin. Di sini, kami menghirup udara kedewasaan untuk pertama kali. Di Dempo, kami enggan
tak enggan, tersadar akan banyak hal dalam hidup sebagai orang dewasa. Ratusan yang
manis dan pahit, yang lembut dan keras, mengecap cinta dan sakit hati pertama,
dan menjadi percaya arti kawan sejati dan kesetiaan, beberapa bahkan mengambil
lompatan iman. Dempo menjadi lahan bagi kami berdinamika, mengubah karakter, dan pola pikir, serta mengubah arah. Beberapa dari kami berbelok,
beberapa tergusur, tapi tak satupun yang lolos dengan jiwa yang sama seperti
saat masuk.
Layaknya daun yang jatuh di atas sungai dan mengalir dari hulu ke
hilir, dan pilihan kami jatuh
di SMA Dempo. Ratusan dari kami mengarungi arus dan melewati kelok sungai yang
sama. Terkadang daun lain mendekat dan menemani perjalanan, merekalah guru dan
karyawan yang mengalir menyediakan jalan bagi kami, guru (digugu lan ditiru) ingkang wonten ngarsa sung tuladha (yang
di depan
memberi contoh). Saat sungai berkelok tajam, arus terlalu deras dan hujan jatuh
di atas
kami, daun yang lain datang, merekalah teman yang setia memberi suka dalam
segala duka. Beberapa berhasil kembali setelah terbawa arus walau dengan gores
dan luka, tetapi ada yang tenggelam dan tidak kembali, namun tak satupun lolos
tanpa pelajaran yang dipetik. Dempo menjadi penghubung masa lalu dan masa depan
kami. Dempo adalah sungai naungan kami menuju hilir, menjadi dini hari bagi malam dan
pagi yang akan menyambut kami. Dalam kesementaraan dini hari ini, kami merenungi apa yang sudah
dan apa yang akan kami jelang. Di sini kami banyak melihat, banyak mendengar dan
banyak belajar, bukan semata soal ilmu pengetahuan namun juga ilmu hidup. Jika
berbicara lebih luas lagi, maka Dempo telah menjadi perpanjangan tangan Yang
Kuasa untuk meraih dan membentuk kita dengan cara yang unik. Saya percaya bahwa Tuhan bicara banyak
bahasa, termasuk melalui tatibsi seorang Romo Nano, kempit paha seorang Pak
Timo, maupun kelemahlembutan
seorang Maam Dwi, melalui mereka yang menjadi servus servorum Dei, pelayan para pelayan Tuhan. Melalui mereka, karya Tuhan nyata terlihat.
Semua yang akan berakhir, sejenak terasa abadi. Saya
teringat dengan perkataan Joe
Biden saat meninggalkan White House setelah
menjadi pendamping Obama tahun lalu, “I wanted to go home the way I came. A
full circle”, sebuah lingkaran penuhlah hidup ini. Akhir adalah mula yang baru,
akhir dari dini hari adalah awal dari pagi yang baru. Matur
sembah nuwun para guru, karyawan lan rencang. Berkah Dalem. Rahayu.. rahayu..
rahayu..
Komentar
Posting Komentar