(a 'nineteen year of living' appreciation post) Only in my teenage years have i come to realize how quickly our mind has evolved... When we were a small child our mind was blinded by almost dogmatic perception of our years ahead... It's funny to think that back when we were a small child, nobody has ever told us about the sometimes immense struggle to reach the thing that used to be our dream. It's like someone skipped 18 or so years from the timeline of our lives and rushed ourselves to imagine the abstract adulthood. Now, just be realistic. Only a small fraction of people really do live their childhood dream. The ones who dreamt about being a pilot, might end up working with numbers and become an accountant. The ones who dreamt about being an astronaut, might end up working as a high school teacher. The ones who aimed way too high, might end up really low (and vice versa). Again, like what i said in my previous posts. As kids, the world we know is almost bin...
((supposed to be) published on Businta Dempo 2018) Istilah “wee small hours” adalah sebutan bagi waktu setelah tengah malam hingga subuh menjelang dini hari. Dini hari hanya 3 jam, tapi sakral , pukul 03.30 para rahib bangun untuk berdoa. Misa pagi biara mulai pukul 04.00, pada waktu yang sama sahur dilakukan di Bulan Ramadan. Inilah waktu paling produktif para insomnia, ketika gelap yang berhimpun sejak senja akan berakhir, siap menyambut terang datang menjelang. Dini hari telah bersama kita , sebelum dan sesudah cahaya. Justru karena dini hari akan berhenti, dia bagian dari kesementaraan, tak tertebak dan menjadi peringatan akan kekurangan diri kita, hadir antara kini yang rapuh dan kelak yang tak jelas. Tiga tahun hidup dalam wee small hours di Dempo. Kami membuka mata, seperti rahib yang bangun pagi buta, menghirup, menyesap udara pagi yang segar namun dingin. Di sin i , kami menghirup udara kedewasaan untuk pertama kali. Di Dempo, kami enggan tak enggan, tersadar ...